Kamis, 08 Januari 2015

Antara Bertahan dan Menyerah

Semua orang tentunya pernah merasakan sebuah rasa yang bercampur, antara kesal, sedih , kecawa bahkan bahagia. Namun rasa itu sering kali membuat orang bingung akan rasa yang berubah-ubah itu. Yaa rasa itu adalah cinta, sebuah perasaan yang kadang orang memakai hatinya atau bahkan orang itu hanya menggunakan rasa ingin mencoba. Menyakitkan memang, ketika mencinta menggunakan hati namun pada nyatanya kekasih hanya ingin mencoba. Namun ketika dihadapkan dengan sikon begitu,tentunya semua orang tak ingin, dan siapa yang tau diawal semua akan menjadi seperti itu

Ketika hati dipermainkan, seseorang pasti ingin menyerah akan keadaan yang ada. Namun, disaat menyerah apakah tidak pernah berfikir berapa lama berusaha memulihkan keadaan, berapa lama bersabar dengan segala sifatnya, berapa lama harus bisa menempatkan posisi untuk saling rukun. Menyerah itu bukan solusi yang baik ketika hati dipermainkan, sabar dan tetap bertahan mungkin yang lebih baik. Karna setidaknya, meski dikhianati kita pernah belajar bagaimana cara bertahan dengan ikhlas meski hasil jauh dibawah keinginan sebenarnya.

Ketika sakit telah ditanamkan, bertahan itu memang keputusan yang menurut orang lain sangat tak masuk akal. Namun apakah mau, pengorbanan yang selama ini kita lakukan hanya akan berakhir seperti itu. Setelah segela macam cara yang kita lakukan, bahkan mengorbankan hati kita untuk bertahan itu akan sia-sia. Aku rasa menyerah itu bukan jawabannya, namun bertahan yang pantas untuk diposisikan saat itu. Mungkin memang sakit, ketika memilih bertahan dan menerima semuanya, namun seseorang itu belum sadar akan kesalahannya.

Mungkin memang sulit melupakan apa yang telah terjadi, apalagi itu menyangkut hati dan perasaan. Namun kadang orang tak pernah berfikir bahwa yang ia lakukan akan menyakitkan untuk kita, bahkan mungkin orang hanya mimikirkan rasa bahagia sesaatnya. Cinta itu memang banyak mengandung sebuah unsur keegoisan, sebuah rasa yang kadang benar-benar sulit untuk diterjemahkan ataupun dijabarkan. Kadang memang hanya orang-orang kuat yang mampu menempatkan dirinya diposisi yang terbaik, yaa orang kuat yang mengambil kesimpulan tak bersama emosi.

Bertahan atau menyerah itu adalah pilihan yang benar-benar membutuhkan kesimpulan dengan tenang, bukan berkesimpulan saat hati memanas dan sakit. Menyerah itu boleh, tapi fikirkan dulu segalanya. Apakah ini saatnya menyerah, ketika semuanya telah kita usahakan namun tak dihargai dan pengorbanan itu tak ada hasil. Namun saat itu kita menyerah ? apakah itu adil buat kita ? aku rasa tidak. Lebih adil rasanya kita untuk bertahan, namun ketika berulang kali pengorbanan itu telah disia-siakan, saat itu menyerah memang pantas. Karna mungkin ia bukan seseorang yang pantas atau bahkan bukan orang yang tepat untuk disayangi sebegitu kuat dan tulusnya.

Jika segalanya telah kita usahakan untuk mempertahankan dan menghargainya, namun ia tak pernah sadar akan hadir kita, atau bahkan ia masih kerap melakukan segala hal yang membuat kita sakit,memilih menyerah dan memilih untuk pergi itu adalah hal yang tepat. Karna suatu saat nanti, akan ada ia yang sadar dan akan mengetahui arti akan hadir kita ditengah-tengahnya. Bertahanlah hanya untuk orang yang pantas dipertahankan, bukan untuk orang yang berulang kali melakukan kesalahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar